Template Mouth-watering Sprites by EZwpthemes from bTemplates. Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label Oneshot. Show all posts
Showing posts with label Oneshot. Show all posts

[OriFic] Anjing Kecil Di Tengah Hujan

Baru ngeh ada draft ini di folder lol. Kayaknya hasil ngerandom ga jelas. Bahkan gue didn't bother namain tokoh-tokohnya. Judul juga sekenanya. Yah gitulah. Enjoy


===================================


Biasanya dia selalu suka hujan.  Tapi tidak hari ini.


Mungkin karena hujan sekarang begitu deras, seperti air bah yang ditumpahkan begitu saja ke atas kepala. Tampaknya Zeus sedang menguras kolamnya dan menjadikan bumi sebagai tempat pembuangan, entahlah. Atau mungkin ada naga yang sedang kena gangguan saluran kencing dan tidak bisa berhenti buang air. Ditambah Boreas yang memutuskan untuk muncul lebih awal dari seharusnya, tanpa sadar warga bumi belum menyiapkan mantel tebal berbulu sama sekali di musim begini. Andai saat ini dia membawa payung, payungnya akan terbalik dalam hitungan detik dan terkoyak percuma.


Mungkin juga karena dia merasa seluruh semesta tengah berkonspirasi untuk menyoraki kemalangannya.


Sementara manusia-manusia lain yang terjebak di jalanan bergerak secepat kaki mereka mengizinkan menuju tempat terdekat yang bisa memberi perlindungan sementara, dia menghentikan langkahnya. Termangu. Menengadah, langit di atas menggelayut kelabu; tak lagi dia ingat apakah itu karena awan hujan masih menggelayut tebal atau karena matahari sebentar lagi permisi dari melaksanakan tugas harian. Butir-butir besar air berjatuhan di pipinya, tanpa ia bisa lagi membedakan apakah itu hujan atau air mata. Tanpa lagi bisa membedakan apakah ia menangis karena menangisi nasib atau karena matanya perih kemasukan air.


Sesuatu—atau seseorang—menyenggol bahunya dari belakang. Tidak kuat, tapi mungkin karena ia tengah melamun—atau efek belum makan sejak kemarin—kakinya sempoyongan. Lalu jatuh tersungkur.


Samar, telinganya menangkap suara seseorang yang berteriak panik.


***


Dia tidak lagi kedinginan, itu hal pertama yang dia sadari. Dia tengah terbaring di atas sesuatu yang lembut, hangat, dan wangi, hal kedua. Lalu kelopak matanya bergerak-gerak, membuka sedikit, cukup untuk selarik sinar mengintip masuk. Silau.


Kering, hangat, lembut, dan terang.


Dia terduduk tegak tepat ketika pintu di seberang tempat tidur yang tengah ia tempati terbuka. Sosok seorang pria berambut cokelat gelap berantakan muncul dengan senyum canggung. Sebelah tangannya membawa cangkir yang isinya masih mengepulkan uap tipis.


“Er—hai.”


Sapaan yang sama canggungnya.


Dia mengerutkan kening. Otaknya masih berusaha memproses dengan baik dan benar tentang mengapa dia tiba-tiba saja tengah terbaring di atas tempat tidur yang tidak ia kenal, di dalam kamar yang juga tidak ia kenal, lalu seorang pria yang sama sekali tidak bisa dia ingat kenal di mana muncul begitu saja, ketika hal terakhir yang dia ingat adalah tengah merenungi nasib di bawah hujan.


“Siapa kau? Ini di mana?”


Si pemuda menganggap pertanyaan bernada kebingungan itu sebagai sebuah sinyal hijau yang mengizinkannya untuk mendekat. Pemuda itu menarik kursi lalu duduk di samping tempat tidur. Cangkirnya masih dipegang. Cengiran bodoh itu juga masih saja terkembang.


“Ini kamarku. Kau tiba-tiba jatuh di depan pintu masuk kompleks apartemenku,” pemuda itu mengaku. “Kau kebasahan, terus kayaknya pingsan. Tidak mungkin kutinggalkan kau terbaring begitu saja di pinggir trotoar. Jadi kuminta satpam membantu membawamu ke sini.”


Matanya memicing, mengamati si pemuda. Tidak terlihat aura psikopat atau mesum pemerkosa, namun ia bisa saja salah. Pemuda baik-baik macam apa yang mau-mau saja membawa masuk seorang gadis yang terjatuh di depan tangga rumahnya, tanpa tahu identitas si gadis?


“Ini. Coklat panas. Minumlah,” si pemuda menyodorkan cangkir itu padanya. Dia masih diam mengamati beberapa saat sebelum lengannya terjulur untuk menerima cangkir.


Hal lain yang dia sadari ketika mengulurkan tangan, dia tengah memakai kaus yang juga tidak dia kenal.


“Mana bajuku?” Dia memelototi si pemuda dengan tatapan menuntut.


“Hei, kau bisa sakit kalau kubiarkan dalam bajumu yang basah kuyup itu,” si pemuda membela diri.


“Jadi kau sembarangan mengambil asumsi dan berkesimpulan kau berhak menelanjangiku?”


“A—aku tidak lihat apa-apa!”


“Yeah, yeah, kayak aku percaya saja,” dia mendengus sarkastis diiringi guliran bola mata. “Kita sama-sama dewasa, kan? Tak perlulah kau gunakan alibi klise a la anak SMP begitu.”


Si pemuda mengedikkan bahu. “Yah, Aku tidak sebrengsek itu untuk mengambil kesempatan ketika kau tidak sadar.”


“Terserahlah,” dia menanggapi malas, seolah ditelanjangi seorang pemuda asing tidak lagi menjadi masalah besar. “Anggaplah itu bonus karena kau menyelamatkanku.”


Dia menyeruput coklatnya. Hangat.


“Ngomong-ngomong, kau kenapa? Kupikir kau jatuh karena kusenggol, tapi aku berani sumpah senggolanku tidak keras. Tapi kau mendadak jatuh dan pingsan.”


“Ho, jadi kau membawaku masuk karena ngeri dituntut tuduhan penganiayaan, jadi kau mau menghilangkan barang bukti dulu?”


Pemuda itu menghela napas, seolah lelah. “Kau tahu,” ujarnya, “kalau kau lebih berminat menghabiskan waktu dengan melemparkan tuduhan tidak berdasar sepanjang hari, dengan penuh hormat aku permisi dan kutinggalkan kau sendiri sampai kau puas. Atau kau bisa bekerja sama dan mulai benar-benar menjawab pertanyaanku. Terserah kau.”


Gadis itu terkekeh, hampir saja tersedak coklat panasnya. “Baiklah, baiklah. Kau pria sibuk membosankan, aku paham. Ayo mulai pertanyaanmu.”


“Kau tidak membawa tas atau barang apapun yang lainnya. Kau bukan sedang kabur, kan?”


Gadis itu mengangkat alis, berusaha terlihat tidak peduli padahal beberapa saat yang lalu jelas-jelas ia tengah merasa menjadi orang paling malang sedunia. “Kau berharap jadi detektif, begitu? Sayang sekali, cerita sebenarnya tidak sedramatis itu. Tasku hilang di stasiun karena aku terlalu sibuk meratapi wawancara kerjaku yang gagal. Semuanya di situ. Uang, ATM, kartu identitas. Apartemenku masih satu jam lagi dari sini dengan kereta dan aku bingung pulang pakai apa, jadilah luntang-lantung sampai depan kompleks apartemenmu.”


“Bagian mananya yang tidak dramatis, coba,” pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala.


“Mengejutkan kau masih bisa tertawa-tawa begini.”


“Well,” dia kembali memusatkan perhatian pada cangkirnya, “shit happens.”


Si pemuda mendengus. Memutuskan untuk berdiri dan keluar. “Baiklah. Kelihatannya kau tidak butuh dihibur atau—“


Bila si pemuda terkejut karena tiba-tiba saja gadis itu menarik kausnya, dia lebih terkejut mendapati tangannya tanpa ia sadari menahan kepergian si pemuda. Kenapa?


“Kau…” si pemuda terdiam sejenak, ragu-ragu. “Menangis?”


Kelopaknya mengerejap, dan dia baru sadar ada butiran-butiran bening yang tengah mengalir deras, mengaburkan pandangannya. Jemarinya meraba pipi. Basah.


“Aku—“


Kenapa dia menangis? Apa diam-diam, meski dia menampakkan sikap tak peduli ketika menceritakan kisahnya, hatinya belum bisa merelakan kesialan itu? Bagaimana dia sudah mencari kerja selama setahun belakangan tanpa hasil berarti dan tabungannya sudah menipis. Bagaimana empat bulan lalu dia terpaksa menyanggupi posisi sebagai pegawai magang dengan bayaran alakadarnya, dan tiba-tiba saja sebulan lalu mendapati dirinya diberhentikan dengan alasan perusahaan sudah tidak lagi memerlukan pegawai magang. Lalu teman-temannya yang satu persatu meninggalkannya karena ia selalu menolak ajakan keluar karena harus berhemat. Lalu mobilnya tiba-tiba saja ditabrak pengemudi mabuk ketika tengah diparkir, dan sekarang terpuruk di bengkel tanpa dia sanggup membayar.


Apa semua orang mengalami kesialan yang sama banyaknya di pertengahan dua puluhan? Kalau iya, mungkin ini penyebab dari munculnya sindrom pertengahan dua puluhan.


Man. Kali ini hidup benar-benar menendangnya telak.


Pemuda itu urung keluar. Dia duduk di tepi tempat tidur, di sebelahnya, melepaskan cangkir coklat panas dari genggamannya dan meletakkannya di atas meja samping tempat tidur. Dia tidak memberontak, juga tidak berusaha menyalahkan atau membenarkan ketika si pemuda mungkin menganggapnya sebagai sinyal penerimaan. Lalu lengan-lengan besar itu melingkarinya. Merengkuhnya lembut. Membaringkan kepalanya di dada si pemuda.


Tiba-tiba saja, dia menyadari, sudah terlalu lama semenjak terakhir kali dia merasakan sentuhan manusia. Bukan, bukan sekedar sentuhan basa-basi seperti ciuman sapaan atau jabat tangan, tapi sentuhan yang sungguh-sungguh ditumpahkan hanya untuknya. Yang seolah ingin menyelimutinya dengan selubung kehangatan, yang seolah ingin memberitahunya untuk tidak perlu kuatir dengan dunia. Seolah, ingin memberitahunya bahwa ia tidak sendiri; ada orang lain yang cukup peduli untuk memberinya kehangatan, memberinya perlindungan.


Padahal, pemuda ini orang asing yang bahkan dia belum tahu siapa. Tapi pelukannya seolah meluruhkan segala sisa-sisa pertahanan terakhirnya. Dia tidak lagi berpura-pura kuat. Dia tidak lagi berpura-pura tak peduli seperti yang ia tampakkan ketika mereka yang ia kira menganggapnya berharga satu persatu meninggalkannya tanpa sekalipun lagi menengok ke belakang.


“Aku merasa seperti memungut seekor anjing liar di tengah hujan.”


Dia meloloskan tawa geli, hampir seperti mendengus.


“Yah, bisa dibilang begitu.”


“Yakin nih tidak keberatan disamakan dengan anjing?”


“Kau sendiri tidak menyesal memungutku?”


“Well…” si pemuda berlagak seperti berpikir, tidak langsung menjawab. “Kurasa tidak buruk juga,” dia nyengir. “Tidak setiap hari aku beruntung memungut anjing manis sepertimu.”


Si pemuda belum melepaskan pelukannya. Tapi dia tak keberatan, karena dia pun masih ingin tenggelam dalam kehangatan seperti ini, yang membuatnya merasa seolah semua masalahnya tak berarti, dan dia akan baik-baik saja.


Si pemuda menggandengnya keluar, memperlihatkan meja sarapan kecil yang sudah penuh makanan. Rupanya sementara dia pingsan tadi, si pemuda sibuk menyiapkan makan. Dia mengerling jendela di ruang depan. Hujan masih bertalu-talu mendera kaca tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Mungkin ramalan cuaca tadi pagi benar tentang angin topan yang tengah mendekat.


Dia tidak lagi membenci hujan hari ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

An Ordinary Night



A.N: Tiba-tiba aja kemarin pingin nulis tentang domestic life dari couple yang udah lama banget bareng-bareng, bukan di tahap pendekatan atau pra-relationship lagi. Terus Amel (@swizzerzz) nimpalin di Twitter. Awalnya mau nulis soal old couple yang tinggal berdua karena anak-anaknya udah gede semua tapi jadinya malah ini... =')) gue lagi ga napsu nulis FF jadi gapake karakter universe manapun. Mungkin si couple di sini dua karakter dari fic gue yang Apple & Cinnamon di blog sebelumnya, tapi dipikir2 lagi ada detil yang beda, tapi yoweslahyaaa~~ Singkat banget, dibikinnya cuma dari sekitar jam 2-an diselang makan siang. Gaada konflik, gaada klimaks-antiklimaks, murni cuma blurb =))

Judulnya judul WB. Seperti biyasa~ Enjoy :3

==========================

An Ordinary Night


Ceklik halus terdengar seiring kunci diputar. Selasar kosong dan sunyi seolah tak berpenghuni menyambut begitu daun pintu mengayun, hanya lampunya yang menyala menandakan rumah itu tidak sepenuhnya kosong. Dia meletakkan tas plastik yang lumayan besar dan tas kerjanya, lalu melepas sepatu dan mantel, mengaitkan mantelnya ke tiang kaitan yang berdiri di sebelah saklar lampu. Langkahnya sengaja dipelankan. Lampu di selasar tengah mati, namun pintu menuju ruang santai dan dapur terbuka setengah, cahaya berpendar dari dalam. Dia berbelok ke dapur.

Seorang gadis remaja empat belas tahun dalam kaus tua kebesaran dan celana pendek longgar tengah duduk dengan kaki terlipat di kursi sarapan sambil memangku mangkuk es krim, matanya terfokus pada layar laptop di depannya, headphone menutupi kedua telinganya, sama sekali tidak tampak seperti menyadari ada orang lain yang masuk ke dapur. Baru setelah pria itu meletakkan kantung plastik yang dia bawa di sebelah laptop, si gadis menyadari kehadirannya. Senyumnya langsung terkembang lebar.

“Makan apa?” tanpa ba-bi-bu si gadis berambut pirang stroberi sebahu melepaskan headphone dan membongkar isi kantung plastik, mangkuk es krimnya diletakkan di sebelah. “Please jangan bilang Chinese lagi. Aku bosan.”

Si pria paruh baya dengan rambut kelimis pirang gelap bergaris uban, meletakkan ketel air di atas kompor untuk membuat teh, terkekeh pelan. “Stew,” katanya, “ada pai daging juga. Ibumu mana?”

Wajah si gadis bertambah cerah seketika, sepasang mata hijaunya membulat. “Pai daging Mrs. Anne’s?” meski, tanpa harus bertanya pun, dia mengenali aroma khas favoritnya yang menguar begitu kotak pembungkusnya dibuka. Gadis itu melenguh puas.

“Mum masih di ruang tengah. Tidur mungkin. Aku mau teh juga, Dad,” gadis itu turun dari kursinya dan menyimpan es krim kembali di lemari es. Dia mengeluarkan roti sourdough yang tinggal setengah dan keju dari wadah penyimpanan, mengiris tebal-tebal untuk tiga orang. Ketel di atas kompor bersiul. Si pria paruh baya membuka kaleng timah tempat daun teh, keningnya berkerut halus mendapati isinya hampir habis.

“Besok aku mengajar setengah hari. Mau belanja habis kau pulang sekolah?”

“Oke,” Si gadis mengangguk, kini memotong-motong pai. Irisan roti dan keju sudah diatur di piring saji. Stew dipindahkan ke tiga mangkuk.

 “Sama Mum juga?”

“Na’ah, ibumu bakal masih sibuk sampai minggu depan,” si ayah menyahut, meletakkan dua cangkir teh di atas meja sebelum menarik kursi. “Kau saja yang buat daftar belanjanya.”

Putrinya memberi anggukan kecil sebagai jawaban, terlalu sibuk menghirup stew dan mengunyah roti dengan mata masih terpancang pada layar laptop, filmnya sudah kembali diputar. Pria itu menata makanan di atas nampan, membawanya ke ruang tengah.

“Kerjakan PR-mu habis makan, ya,” ujarnya sebelum berlalu.

“Iyaa.”

Dia mendorong pintu ruang tengah hingga terbuka sepenuhnya dengan sebelah bahu. Lampunya menyala, namun sunyi tak ada suara apapun. Matanya tertumbuk ke arah sofa panjang di depan televisi, seseorang bergelung nyaman terbalut selimut tebal. Perangkat PC istrinya yang dipindahkan dari ruang kerja memenuhi setengah permukaan meja kopi pendek, kabel-kabel berseliweran di atas karpet. Setengah permukaan meja sisanya tertutup gulungan besar kertas dan tumpukan buku tentang arsitektur dan desain.  Teko air berisi setengah dan gelas kosong terletak di samping meja.

Dia menggeser beberapa tumpukan buku, meletakkan nampannya. Helai-helai halus cokelat gelap menyembul dari balik selimut yang naik-turun seiring irama napas. Dia duduk melipat kaki di bawah sofa, mengerling profil wajah kelelahan istrinya yang lelap, mengelus anak-anak rambut di pelipisnya dengan sayang, menahan keinginan untuk mengecup keningnya karena tak ingin membangunkan sang istri yang terlelap.

Televisi dia nyalakan tanpa suara, menampilkan acara berita. Dia mulai makan.

Ada gerakan pelan yang ia rasakan dari belakang punggungnya. Menoleh sambil mulutnya masih mengunyah pai, mendapati istrinya perlahan bangun, mengucek mata.

“Pagi,” selorohnya, meski nyata-nyata display jam di sudut kiri bawah layar televisi menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit, disambut wajah cemberut istrinya—yang tidak bertahan lama begitu mengendus aroma familiar dan mengenali isi piring dalam pangkuan sang suami.

“Mmm, pai Mrs. Anne’s?”

“Mm-hmm,” sahut si suami, menawarkan sesendok penuh yang langsung dilahap si istri. Dia memejamkan mata, menikmati rasa lezat pai seperti orang belum makan seminggu. Wanita itu merosot dari sofa, duduk di atas lantai berkarpet tebal di sebelah suaminya. Dengan masih tergulung dalam selimut, tangannya mengambil mangkuk stew dan mulai makan. Sang suami bergiliran menyuapkan pai untuk dirinya dan istrinya.

“Bagaimana pekerjaanmu?”

“Lumayan. Cukup untuk kupresentasikan di rapat dengan tim besok,” dia meringis. “Besok kau mengajar seharian?”

“Setengah hari, lalu belanja dengan Jess.”

Wanita itu mengerang. “Aku lupa kulkas sudah hampir kosong,” ujarnya dengan nada minta maaf. Si pria terkekeh, menepuk puncak kepala istrinya seolah itu masalah kecil.

“Mau kujemput lalu makan malam setelah kami selesai belanja besok?”

“Yeah, boleh.”

Keduanya meneruskan makan dalam hening. Dia menyuapi istrinya pai, si istri menyuapinya stew. Istrinya menaikkan volume suara televisi. Penyiar berita sedang membacakan liputan luar negeri.

Makan malam mereka habis tepat ketika liputan cuaca ditayangkan. Si wanita mengernyit, mengomentari tentang badai yang diperkirakan akan tiba beberapa hari lagi. Si pria menimpali akan berbelanja ekstra besok dan memeriksa penghalang badai serta saluran gas, listrik dan air akhir minggu ini untuk berjaga-jaga. Percakapan bergulir pada topik klien rewel yang tengah ditangani si wanita, persiapan masa ujian akhir semester di kampus si pria, lalu tentang tetangga tua yang tinggal di flat satu lantai di atas mereka, yang tempo hari membagi keju yang dibuatnya sendiri. Lalu si pria berdiri, membawa nampan berisi peralatan makan ke dapur. Putrinya masih di meja sarapan, masih menghadapi laptopnya, kali ini dengan wajah berkerut penuh konsentrasi. Kertas-kertas berisi coretan bertebaran di samping.

“Dad, aku nggak ngerti ini,” si gadis remaja tanggung mengeluh, pensilnya menunjuk pada deretan soal aljabar di layar. Si ayah menarik kursi mendekat, mengamati soal yang ditanyakan, mengambil selembar kertas dan pensil lain dan mulai menjelaskan. Lalu menghabiskan setidaknya tiga puluh menit berikutnya mengawasi anak gadisnya mengerjakan PR, hingga si gadis meyakinkan ayahnya kalau ia bisa mengerjakan sisanya sendiri. Si pria bangkit untuk menata piring dan mangkuk di mesin pencuci piring dan menyalakannya.

“Aku di ruang tengah kalau kau butuh bantuan lagi,” ujarnya. Anak gadisnya mengacungkan jempol.

Si pria menenteng sleeping bag yang ia keluarkan dari lemari penyimpanan setelah berganti baju, menggelarnya di atas lantai berkarpet tidak jauh dari istrinya yang tengah bekerja diiringi lagu-lagu The Who sambil sesekali ikut bernyanyi di bagian yang ia tahu. Televisi sudah dimatikan. Dia mengeluarkan laptop dari tas kerjanya, mulai memeriksa tugas para mahasiswanya sambil tengkurap di dalam sleeping bag. Lengan-lengan jarum jam dinding terus berputar. Lalu terdengar suara halus langkah kaki anak gadisnya pindah ke kamar.

Malam semakin larut. Si pria duduk dan meregangkan badan, mendapati istrinya sudah tertidur lagi di sofa dengan posisi tubuh tertekuk ganjil. Dia mendekat, membetulkan selimut istrinya, lalu mengecup dahinya penuh sayang. Istrinya bergerak-gerak meluruskan kaki, lalu kembali terlelap.

Dia mematikan laptopnya dan merangkak masuk ke dalam sleeping bag.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jauh

Yang ini juga dapet prompt dari anak insomniaLover juga, 'jauh' dari Rica. Entah kenapa, pas lagi nulis scene dua karakter ini ga bisa diilangin dari kepala gue.... sampe gue delete draft awal trus ganti semua lolololol. Ini tentang karakter punya gue dulu di AH, Annabel Perdue, yang pernah didiskusiin ama Teki mau di-pair ama DE yang dia mainin, which is Augustus Rookwood. Oh, dan kita ngeplot mereka beda 10 tahun (Augustus being the older one, of course) (insert maniacal guy laugh here)

Timeline-nya ini AU, ga ngikut timeline aslinya =)) Gue tetiba aja pingin bikin timeline bagian kedua itu pas tahun 2005. Kenapa 2005? Silakan gugling aja 2005 di London ada apa muhahahahahah. Augustus Rookwood credit to JK Rowling, Annabel Perdue is an original character of mine.

Enjoy.

============================

Dia selalu suka pantai yang sepi di pagi hari. Pasir yang basah ketika diinjak, udara dingin berbau garam, ramai desiran ombak, sesekali disela para nelayan atau pengusaha penyewaan perahu meneriakkan perintah-perintah. Penjaga membuka pintu gedung pusat olahraga di atas dermaga. Pelari pagi yang membawa anjing Labrador besar, si anjing tampak terlalu gembira menggendusi pasir dan mengejar kepiting yang terdampar air pasang, menggonggong heboh saat ia melambaikan tangan. Pasangan muda yang tengah berjalan-jalan di ujung sana, kedua lengan mereka berayun-ayun mesra, tampak saling tergelak dan tertawa, meski ia tak bisa mendengar apapun dari tempatnya berdiri. Angin mempermainkan rambut pirangnya yang tebal mengombak, juga tepian gaun tipisnya. Ia melangkah kecil-kecil, hati-hati melompati pecahan-pecahan kulit kerang yang berserak terbawa pasang.

Seperti hari-hari sebelumnya, pria itu juga ada di sana. Duduk di tempatnya yang sama, diam, memandang sesuatu jauh di tengah laut yang tak bisa ia tebak apa. Tak pernah ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Dengan rambut panjang dan gelap terurai masai, mantel hitam panjang meski ini pantai di tengah musim panas, sosok sang pria yang tegap tak bergeming bagai karang di tengah laut, mau tak mau mengundang rasa kepenasarannya.

Father memutuskan mereka akan menghabiskan dua bulan musim panas di pondok kecil tepi pantai. Ini suatu perubahan, tentu. Sepanjang enam belas tahun hidupnya, tak pernah Father membawanya keluar dari Canterbury. Dia sudah begitu terbiasa memandangi petak langit yang sama dari jendela loteng yang sama, sama sekali tak tahu ada pantai kecil damai yang indah hanya satu jam dari rumahnya.

Tentu, menjelang siang, pantai kecil ini akan mulai penuh, oleh orang-orang yang bersantai sepanjang waktu makan siang, oleh anak-anak yang kebosanan tak punya hal lain yang dilakukan untuk mengisi masa liburan selain kembali menongkrongi pantai, oleh para turis dari kota lain yang jauh. Karenanya ia suka berjalan-jalan di pagi hari, saat ia bisa menikmati suara pagi tanpa terganggu oleh siapapun. Berjalan sedikit, terkadang mencari kulit kerang yang masih bagus, terkadang diendusi oleh si anjing yang selalu berlari setiap pagi dengan pemiliknya, lalu pulang pukul sepuluh untuk makan pagi bersama Father.

Belakangan, pria itu hadir, menambah detail baru dalam pigura suasana paginya. Awalnya dia hanya melirik si pria sekilas, penasaran dengan mantel hitam panjangnya yang masih saja dikenakan di musim panas. Si pria akan masih duduk di tempat yang sama ketika dia pulang ke pondok sewaan untuk makan pagi bersama Father, dan keesokan paginya, saat ia tiba, pria itu sudah lebih dulu duduk di sana. Seolah ia sama sekali tak pernah meninggalkan tempat itu untuk makan atau apapun.

Dipikir lagi, dia tak pernah melihat pria itu makan. Apa pria itu selalu tiba sebelum matahari terbit, lalu pergi untuk makan jauh setelah siang? Ia tak tahu, ia juga tak punya keberanian yang cukup untuk sekedar bertanya. Penduduk sekitar pun tampaknya telah begitu saja menerima keberadaan sosok tinggi gelap itu, sama sekali tak ada yang mengusik sesi duduk dan melamunnya. Tidak, sepertinya, malah pria itu yang tak acuh, membiarkan orang dan waktu bergulir di sekitarnya, berputar melewatinya.

Maka, ia pun mencoba untuk juga membiarkan sang pria tenggelam dalam aliran waktunya sendiri. Ia duduk memperhatikan debur ombak yang membuih, memperhatikan perahu para nelayan, hanya beberapa meter dari tempat si pria duduk. Lalu ia melambaikan tangan saat si anjing Labrador mendekat, lalu saling berkejar-kejaran, atau hanya duduk menggaruki perut si anjing, atau melemparkan tongkat untuk dikejar si anjing, seperti yang selalu dilakukannya untuk mengisi pagi, sejak ketika si pria belum ada di sana.

Mata mereka bertemu pandang, satu kali. Dia buru-buru menunduk hormat, ngeri dia telah mengganggu kedamaian si pria, lebih ngeri lagi bila dia mengamuk atau apa. Tapi tidak. Pria itu balas mengedik samar, lalu kembali memandangi batas cakrawala.

Dan hari-hari pun bergulir, dengan sepotong pagi selalu ia lewatkan bersama si pria, tanpa saling bertukar kata sepatahpun. Ia bermain, si pria akan duduk memandang laut. Ia duduk, mengamati siluet kokohnya, dengan punggung tegapnya, dengan mantel yang sama, dengan rambut hitam yang semakin panjang, selalu menempati tempat yang sama, seolah dipisahkan oleh selubung sunyi dengan dunia luar. Meski, belakangan, ia semakin sering menangkap pandangan si pria juga mengamatinya, dalam diam.

Dua bulan liburan musim panasnya bergulir sudah. Father memberitahunya saat ia membuka pintu pondok untuk jalan-jalan pagi, kalau sore ini mereka akan pulang kembali ke rumah mereka di Canterbury. Jangan terlalu lama di luar, katanya. Kita harus mengepak koper, begitu katanya lagi. Gadis kecil itu mengangguk, segera menyelinap keluar, tak ingin Father mengamati wajahnya lebih lama.

Dua bulan. Ia lupa. Ia lupa kalau ini bukan rumahnya, kalau ini hanya persinggahan sementara mereka selama musim panas, dan begitu Agustus berakhir, ia harus kembali ke sekolah, Father kembali untuk mengajar di universitas. Itu berarti dia harus meninggalkan rutinitas paginya menikmati pantai dan angin berbau garamnya, juga... sang pria bermantel hitam panjang. Rasanya... aneh. Mereka tak pernah saling bertukar kata. Ia bahkan tak tahu siapa namanya, dan kenapa pria itu selalu ada di tempat yang sama setiap hari. Namun, ada yang terasa menyentak, dan dadanya sakit, saat ia menyadari kalau ini hari terakhir dirinya bisa mengunjungi pantai, dan kembali mengamati si pria bermantel hitam panjang. Kaki-kaki mungilnya berderap semakin cepat, semakin cepat, sandalnya berkelepak-kelepak di atas aspal. Dia ingin segera tiba di pantai dan---

--Tidak ada. Pria itu tidak ada di sana. Terengah, sepasang matanya yang sebiru kaca menyisir pantai dengan panik, mencari-cari rambut panjang masai itu, mencari mantel itu. Ia bahkan berlari-lari kecil menyusuri pantai. Mencari-cari di dermaga. Melongoki setiap rumah makan yang buka di sepanjang jalan.

Tidak ada. Pria itu tidak ada di mana-mana. Kelelahan, ia kembali ke tempatnya yang biasa, menjatuhkan diri duduk. Napasnya naik-turun, dadanya sakit setelah berlari-lari, namun ada sesuatu yang lain yang juga menyentak dan menusuk. Ia tak mengira akan merasa sekehilangan ini saat tak menemukan sosok pria itu di tempatnya yang biasa. Ia menunggu, dan menunggu, terus menunggu si pria hingga Father menyusulnya karena mereka seharusnya tengah mengepak koper sekarang, namun pria itu tak pernah menampakkan diri sama sekali.

Rasanya, ada lubang besar yang tercipta seiring kakinya menjauhi pantai, selangkah demi selangkah.

*************

Dua tahun telah berlalu. Dia delapan belas sekarang, baru saja lulus dari sekolah putri berasrama tempatnya belajar di utara Skotlandia sana. Father menjemputnya di King's Cross tanggal tiga puluh satu Juni kemarin, lalu menawarinya untuk menginap seminggu dua minggu di London sebelum kembali ke rumah Canterbury mereka. Saat ia bertanya kenapa, Father hanya bergumam soal siapa tahu ia ingin berjalan-jalan keliling London, lalu kembali menguburkan kepalanya di balik tumpukan buku, tanpa sadar bergumam lebih keras soal keluhan akan bertemu kolega menyebalkan di konferensi mendatang. Bibir si gadis langsung mengerucut. Sudah jelas, Father akan disibukkan dengan konferensi atau apa dan dia akan ditinggalkan berjamur sendirian di kamar hotel.

"Baiklah, kau boleh jalan-jalan. TAPI cuma sekitar Central London. Dan HARUS sudah pulang ke hotel sebelum gelap," akhirnya Father menyerah, dan masih ditambah dengan serangkaian petuah mengenai tempat apa yang boleh dan tidak boleh ia datangi, apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan. Ia memang delapan belas, namun tubuhnya masih semungil bocah dua belas tahun, satu hal yang membuat Father selalu khawatir berlebihan membiarkannya bepergian sendirian. Namun ia menyambutnya gembira. Kapan lagi ia bisa menyusuri jalanan kota London sepuasnya, tanpa dibuntuti Father yang selalu menenggelamkan hidungnya ke dalam buku?

Ini hari kedelapannya di London. Setiap pagi, ia selalu membeli secangkir teh panas dan sekantung croissant, lalu duduk di Tavistock Square tak jauh dari hotelnya, menikmati sarapan sambil mengamati orang-orang berlalu lalang menuju kesibukan mereka masing-masing. Dia tengah pelan-pelan mengunyah croissant-nya sambil mengamati para turis yang mengantri di halte bus tak jauh dari bangku panjang tempatnya duduk, saat tiba-tiba geraknya terhenti.

Mantel itu. Sosok itu. Tak mungkin ia lupa, walau sudah dua tahun berlalu. Dengan rambut hitamnya yang panjang, sepasang mata yang menyorotkan kesendirian, punggung kokoh yang sama, bahu yang sama.

Sontak ia berdiri. Melupakan tehnya, melupakan croissant-nya. Kaki-kakinya berderap, sekuat tenaga berlari, memburu si pria yang dua tahun lalu selalu berbagi sepotong pagi yang sama dengannya.

Pria itu naik bus tingkat merah, naik setelah rombongan turis yang berisik dan sibuk mengambil foto bis sambil menanti giliran mereka naik. Dia berhenti, tak sempat mengejar bis yang keburu menutup pintu dan kembali bergerak maju, mendekatinya yang terengah-engah di trotoar. Putus asa, ia menjulurkan leher saat bis tingkat merah itu melewatinya, berusaha mencari sosok pria bermantel hitam panjang.

Lagi, setelah dua tahun berlalu, tatapan mereka saling beradu. Ia bisa melihat ada keterkejutan yang nyata, membayang di sepasang bola mata kelam sang pria bermantel hitam. Di sepersekian detik tatapan mereka beradu ketika bis melewatinya, mulut si pria membentuk sesuatu.

'Lari.'

Terdengar ledakan keras, memekakkan telinga. Ban berdecit, pecahan kaca dan logam beterbangan, bunga api membuncah, teriakan-teriakan ketakutan. Ia sendiri pun menjerit, hal terakhir yang dia ingat selain potongan logam merah terbang mendekatinya, lalu semuanya gelap.

Sunyi.

Basah. Ada yang basah. Menggenang. Merah.

=TAMAT=

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Friendzone

 Prompt 'Friendzone' dari Rizqa, temen gue dari insomniaLover Bandung. Karena gue males cari judul (seperti biasa.... kapan sih Mikan bisa bikin judul kreatif?) gue judulin sama kaya Prompt-nya aja >) Ngetiknya di Evernote HP, kelar paling cuma 3-4 jam terus abis gitu gue tercengang-cengang sendiri gitu karena ternyata sanggup bikin oneshot beneran oneshot sekali duduk langsung kelar, lewat hape pula :| Ini versi yang udah diedit dikit. Versi awal masih di Evernote gue.

================================

Friendzone

"Yang ini apa yang ini?"

Alisnya terangkat. Tak percaya.

"Like, seriously? Lo mau ke first date apa pengajian?"

Si gadis melemparkan tatapan terluka.

"Lo bilang baju paling bagus..."

"Ya bukan baju lebaran juga kali cuuy! Mana coba sini lemari lo ah!"

"Eh tunggu tunggu!" Si gadis tiba-tiba kelabakan. Siapa yang tak akan kelabakan kalau tiba-tiba saja seorang pemuda berkata akan menginspeksi lemari bajunya, tempat rahasia-rahasia terdalamnya (iya, literally) disimpan? Mau pria itu sepupunya sendiri yang hampir setiap hari numpang tidur siang di kamarnya juga tetap saja... lemari seorang gadis remaja adalah tempat sakral.

"Kalem sih, gue gak akan buka laci baju dalem lo juga," si pemuda berkata sangat enteng, seolah itu cuma masalah apakah si gadis mau nasi gorengnya pakai bawang atau tidak, membuka kedua pintu lemari baju si gadis lebar-lebar. Dia mengernyitkan keningnya, betulan serius mempertimbangkan setiap baju yang terlipat dan tergantung, sementara si gadis mengintip cemas dari balik bahu si pemuda sambil berjinjit. Berharap si pemuda betulan tidak membuka laci baju dalamnya karena, well, selain ada baju dalam yang memalukan kalau sampai diinspeksi laki-laki, jurnalnya juga disimpan di sana.

Si pemuda hanya tahu kalau jurnal itu berisi cerita-cerita tulisannya. Dia tak tahu si gadis juga menuliskan hal-hal lain di jurnalnya.

"Plannya pergi ke mana?" Si pemuda bertanya lagi, seolah belum cukup semalam ia membantu si gadis yang tegang dan kebingungan membuat rencana untuk kencan pertamanya.

".... kan lo juga tau mau ke—"

"Culinary Night. Nih. Blus ini, cardigan yang ini, kerudungnya yang ini, celananya yang ini. Setrika dulu sana."

Antara dia ingin melahap si pemuda saking gemasnya dengan cara bicaranya yang seolah paling tahu bagaimana cara perempuan berdandan, dengan ingin berterima kasih karena bagaimanapun, si pemuda memang nyata-nyata yang memberikan bantuan betulan, bukan sekadar saran atau kritikan kosong atau lebih parah, hanya berkata 'ya terus mau gimana?'. Akhirnya si gadis menahan diri untuk melakukan perintah si pemuda tanpa berkomentar apapun. Satu jam berikutnya penuh dengan si pemuda memberikan seruan-seruan seperti 'Lo bisa nyetrika rapi gak sih?' 'Yang simpel dong! Lo mau kencan apa cosplay jadi Quirrel?' 'Eyeliner lo nyeet! Tau mata lo kecil gitu!' 'Sumpah lo ga punya parfum yang bener apa?' dan varian-varian lain yang sejenis.

"Gila ya lo, ga nyangka gue lo bisa lebih cerewet dari Mami recokin gue dandan," si gadis kembali menghela napas panjang, berusaha menelan sabar saat dia mengganti kalung untuk yang ketiga kalinya.

"Satu: lo mau pergi ama temen gue. Dua: gue yang rekomen elo ke dia. Mau ditaro di mana muka gue men, kalo dia ngerasa lo gak seoke rekomendasi gue?"

Mau tak mau si gadis sedikit merasa tersanjung.

"Tapi kok lo gak recokin temen lo itu?"

"Cmon, cowok oke macem dia mananya yang kudu dipoles lagi, sih? Dia udah upgrade segalanya lebih dulu dari elo. Introspeksi tuh."

Ugh. Baru merasa tersanjung sedikit dan sepupunya ini dengan sangat pintar membawanya kembali terhempas jatuh. Amat keras.

"Oke. Inget ya nanti, lo gak usah akting sok-sok jadi cewek lemah ama dia."

"Kayak gue pernah akting sok lemah aja—"

"Gak usah drama-dramaan, baru ketemu!"

"Gue gak segitu drama queen—"

"Ga usah canggung-canggung segala, anggep lo lagi hang out ama gue aja. Obrolin apa aja yang terlintas di kepala lo kayak biasanya, mau serandom apapun. Gue udah bilang kok otak elo sangat random."

"WHAT THE—"

"Iya, kayak waktu kita makan pizza terus lo penasaran apa keju rasanya kuning juga kayak warnanya."

"....Berisik."

Bisakah sepupunya ini berhenti memberi petuah? Kesemuanya itu tidak membantu, sungguh.  Malah membuatnya tambah grogi dan kalut memikirkan bagaimana bila dia dan si lawan bicara nanti sudah kehabisan bahan pembicaraan. Masa dia harus membicarakan tentang cuaca, yang benar saja?

"Oke. Telepon gue kalo ada apa-apa, oke?"

"Nggak bakal ada apa-apa, ya ampun. Kalau ada apa-apa, temen lo itu yang kudunya lo ceramahin panjang lebar."

"Ooh, kalo itu sih urusannya beda," si pemuda tertawa bangga. Sekali lagi, dia mengecek penampilan si gadis dari atas sampai bawah, bahkan menyuruh si gadis berputar sekali.

"Sip. Cantik," akhirnya dia berdecak puas. Ada semburat merah menyeruak sesaat ke permukaan ketika si gadis mendengarnya, diam-diam berjingkrak dalam hati karena si pemuda menyebutnya cantik. Ia menunduk, pura-pura membetulkan kalungnya agar si pemuda tidak melihatnya tengah tersipu-sipu menahan senyum.

"Sana pergi. Jangan sampe telat, ngancurin first impression lo aja."

"Baweel!"

Tak urung, si gadis memeluk si pemuda sebelum pergi. Meski bawel, meski menyebalkan, meski kata-katanya menyakitkan, pemuda ini yang selalu ada di sisinya bahkan di saat-saat terburuknya, memberikan semua yang bisa ia lakukan untuk menbantunya tersenyum lagi. Coba, bisa apa dia kalau sepupunya tidak ada saat ia baru diputuskan tanpa alasan jelas oleh pacarnya selama lima tahun itu? Mungkin sekarang ia masih menangis sambil mengunyah sebatang coklat, menontoni drama di laptopnya hingga selesai ber-season-season.

"Thanks for everything. You're the best."

"Yep. I know."

"Songong!"

Diantar suara tawa, si gadis melambaikan tangan dan pergi.

**************

"Apaan nih?"

Respon yang sudah bisa ditebak ketika dia tanpa ba-bi-bu mengirimkan temannya foto seorang gadis berkerudung.

"Sepupu gue. Food adventurer, traveler, matanya jeli sama detail, kayanya cocok sama artisan kaya lo. Kadang otaknya rada random sih siap-siap aja."

"Wud—seriously? Hooking me up with your own cousin?"

"Baru diputusin, men. Capek gue dengerin dia nangis."

"Anjir."

"Udah lima taun pacaran, makanya lupa pedekate orang baru."

"Perih, Jendral."

"Banget."

"So? Lo mau gue bawain betadine gitu buat dia?"

"Apa deeh biar dia move on. Nyokapnya bolak balik telepon gue nyeet! Tiap jam ada kali. Mana dia nangis mulu berisik sumpah, udah ampir gila ini gue ngurusin dua perempuan."

"Ye bastard."

"I know."

"Jangan dendam kalo entar sepupu lo jadi nangis karena gue."

"Na'ah, gue tau lo pria baik."

"Wow. Tersanjung, gue."

"Ya paling kalo lo brengsek ama dia tinggal gue format laptop ama HDDE lo."

"....brengs."

"lol. Jagain sepupu gue baik-baik, ya."

***************

Mereka pasti sudah saling bertemu sejak masih sama-sama bayi karena usia mereka berdekatan, namun kejadian paling awal yang dia ingat dari interaksi bersama sepupunya itu adalah saat berebut kasur lipat motif Power Ranger miliknya yang sengaja dibawa dari rumah karena tempat nenek selalu kekurangan kasur saat seluruh keluarga berkumpul, dan ibu serta tantenya dengan kompak memutuskan kalau sepupunya boleh menggunakan kasur lipat itu alih-alih dia, dengan alasan sepupunya perempuan dan kasur itu miliknya, jadi ia sudah merasakan tidur di atasnya berkali-kali. Sejak saat itu ia mendeklarasikan perang dengan sepupunya, selalu mencari cara untuk balas dendam setiap kali bertemu. Meski pada ujungnya ia sendiri yang tidak tahan keberisikan dengan tangisan sepupunya itu.

Waktu bergulir, tanpa sadar dia sudah mau masuk SMP. Ayahnya merintis bisnis di negara baru, ibunya memutuskan pindah untuk tinggal berdekatan dengan kakaknya, dan seolah sudah diatur semesta, mereka satu sekolah. Satu kelas, pula. Seperti layaknya anak remaja laki-laki yang paranoid bila memiliki suatu relasi khusus dengan anak perempuan, dia mengultimatum sepupunya untuk tidak menyebutkan apapun tentang hubungan persaudaraan mereka, dan saling menganggap yang lain sebagai orang asing. Butuh waktu sampai dua tahun untuk akhirnya ia bisa berbicara normal dengan sepupunya dan melupakan dendam masa kecil. Sedikit dibantu dengan sepupunya yang selalu memilih dia sebagai partner kerja kelompok karena tak ada orang lain yang mau memiliki partner segalak dia, well.

SMP berlanjut ke SMA, mereka masih mendaftar ke sekolah yang sama. Saat ternyata dia dan sepupunya diterima di universitas yang sama, ibu dan tantenya memutuskan (tanpa persetujuannya, tentu saja, kapan juga mereka pernah tanya-tanya pendapatnya, sih?) kalau dia dan sepupunya harus menyewa kamar kos bersebelahan dengan judul untuk saling menjaga. Dan tiba-tiba saja, ia menyadari, bertahun-tahun harinya telah dihabiskan bersama-sama dengan sepupunya, dan akan masih begitu hingga bertahun-tahun ke depan. Gadis itu orang terlama yang pernah ia kenal dalam hidupnya, dan orang terlama yang hadir dalam hidupnya.

Telepon genggamnya bergetar. Ia melirik, berhenti mengisap rokoknya untuk melihat siapa. Sepupunya, mengirimkan gambar dirinya dan si pemuda temannya. Sepupunya tersenyum. Lebar. Tak tampak kalau sampai kemarin, gadis itu selalu menangis dan murung habis-habisan setiap hari. Cantik sekali.

"You're right. He's great. Thanks a bunch for tonight!"

Begitu pesan yang mengiringi.

Sudut bibirnya terangkat sedikit. Telepon genggamnya dimain-mainkan, pandangannya menerawang menatap langit. Entah karena mendung atau polusi cahaya, tak terlihat apapun. Dia menyesap lagi rokoknya dalam-dalam.

Dingin. Mungkin ia seharusnya masuk saja alih-alih merokok di balkon begini.

==TAMAT==

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS